Cerpen oleh : Ghina Nuur Ihsaani
Guru Muda MTSN 4 Indramayu
Adi, 20 tahun, menghela napas panjang. Udara Jakarta yang katanya beraroma sukses, nyatanya lebih mirip perpaduan knalpot, debu, dan keringat. Ia merantau ke ibu kota, berbekal satu-satunya benda berharga yang ia miliki: selembar ijazah SMP yang sudah agak lusuh.
Di kampungnya, kaki Gunung Salak, ijazah ini sudah cukup untuk membuat tetangganya kagum. Di sini, ijazah itu terasa tak berdaya, seperti lidi yang ingin menggeser truk.
Pagi itu, ia memberanikan diri melamar ke sebuah perusahaan makanan ternama, PT. Rasa Mantap Jaya. Perusahaan ini terkenal dengan produk mi instannya yang iklannya selalu menampilkan orang makan sambil salto. Adi merasa yakin, ia pasti bisa diterima. Apalagi, bagian depan gedung bertuliskan “Dibutuhkan Tenaga Kerja Jujur dan Ulet”. Adi merasa kedua kriteria itu ada pada dirinya. Jujur, ia pernah mengembalikan dompet berisi Rp50.000 yang terjatuh di angkot. Ulet, ia mampu memakan mi instan kuah tanpa perlu sedotan.
Ketika masuk ke ruang tunggu, mata Adi langsung membulat. Ia tak menyangka akan menghadapi persaingan yang begitu ketat. Ada sekitar sepuluh orang lain yang melamar. Semuanya tampak rapi, wangi, dan – yang paling membuat Adi ciut – mereka semua memegang map berisi ijazah SMA. Beberapa bahkan terlihat seperti sarjana muda yang sedang iseng.
“Wih, ini pasti lulusan SMA semua ya?” sapa Adi, mencoba memecah keheningan. Salah seorang pemuda berkacamata yang mengenakan kemeja rapi tersenyum sinis.
“Iya, Mas. Ini kan persyaratannya minimal SMA. Emang Mas lulusan mana?” tanyanya.
“SMP,” jawab Adi dengan bangga, seolah-olah ia baru saja bilang “lulusan Harvard”.
Sontak, seluruh ruangan hening. Beberapa orang menahan tawa, dan ada yang langsung berbisik-bisik. Adi mendengar salah satu dari mereka, seorang perempuan berambut keriting, berkata, “Gila, nekat juga ya. Pake ijazah SMP.”
“Lah, kenapa? Di iklan enggak ditulis harus SMA,” elak Adi.
“Ya enggak ditulis, tapi itu kan standar minimal, Mas. Mana ada perusahaan bonafide mau nerima lulusan SMP,” kata pemuda berkacamata tadi sambil membenahi letak kacamatanya.
Adi tak menyerah. Ia lalu berkata, “Ya siapa tahu, Mas. Siapa tahu perusahaan ini butuh orang yang mau kerja keras, bukan cuma yang punya ijazah tinggi.”
“Kerja keras gimana? Angkat-angkat karung terigu?” sindir pemuda lain.
“Bukan, Mas. Kerja keras buat bikin mi instan yang rasanya mantap,” balas Adi sambil nyengir.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya dengan dandanan rapi dan wajah datar keluar. Nametag-nya bertuliskan Bu Sinta, HRD Manager.
“Silakan masuk, yang bernama Adi,” panggilnya.
Semua orang di ruang tunggu tercengang. Adi, yang hanya berbekal ijazah SMP, dipanggil pertama. Ia melangkah masuk ke ruangan wawancara dengan dada membusung.
Di dalam, Bu Sinta duduk di balik meja besar. Ia membolak-balik berkas Adi. Terdengar suara kertas yang bergesek, seolah Bu Sinta sedang menimbang-nimbang antara keajaiban dan kebodohan.
“Jadi, Mas Adi, kamu datang dari kampung ya? Gunung Salak?” tanya Bu Sinta.
“Betul, Bu. Saya datang ke sini demi masa depan yang lebih baik. Dan demi bisa beli mi instan yang banyak,” jawab Adi jujur.
Bu Sinta mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa kamu ingin bekerja di perusahaan kami? Dengan ijazah SMP, kami rasa kamu tidak memenuhi kualifikasi.”
Adi tersenyum. “Bu, ijazah itu cuma selembar kertas. Tapi, semangat saya buat kerja di sini itu tebal, Bu. Setebal kuah mi instan yang Ibu produksi.”
Bu Sinta terdiam. Ia tampak menahan tawa, atau mungkin amarah. “Kami mencari karyawan yang bisa berinovasi. Punya ide-ide segar.”
“Oh, soal itu jangan khawatir, Bu. Saya punya ide banyak. Misalnya, gimana kalau kita bikin mi instan rasa jengkol?” kata Adi dengan penuh keyakinan.
“Hah? Jengkol?” Bu Sinta hampir tersedak.
“Iya, Bu. Rasanya nendang. Pedas, gurih, dan ada bau-baunya. Pasti laku keras di kampung saya,” lanjut Adi.
“Oke, ide kamu unik. Tapi, kami butuh karyawan yang bisa bekerja dalam tim. Kamu bisa?” tanya Bu Sinta lagi.
“Bisa, Bu. Waktu di kampung, saya sering kerja tim sama teman-teman. Tim buat nyolong mangga tetangga. Tapi itu dulu, Bu, sekarang sudah tobat,” jawab Adi polos.
Bu Sinta memijat pelipisnya. “Baik, Adi. Saya berikan kamu satu pertanyaan terakhir. Kenapa saya harus mempekerjakan kamu, bukan pelamar lain yang ijazahnya lebih tinggi?”
Adi menatap Bu Sinta lurus-lurus. “Begini, Bu. Mereka semua memang punya ijazah SMA. Tapi, mereka itu seperti mi instan yang dijual di pasaran. Banyak, sama semua. Saya, Bu, itu beda. Saya kayak mi instan yang lagi limited edition. Enggak banyak, tapi punya rasa yang spesial.”
Bu Sinta tak bisa lagi menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya keluar. Ruangan wawancara yang tadinya tegang kini dipenuhi gelak tawa.
“Adi, kamu ini ada-ada saja. Belum pernah saya wawancara orang seperti kamu,” kata Bu Sinta setelah reda. “Baiklah. Kami butuh orang yang nyeleneh, yang berani beda. Kamu diterima. Tapi jangan harap bisa langsung jadi manajer. Kamu akan saya tempatkan di bagian gudang. Tugas kamu menyusun karung-karung terigu,” putusnya.
Mata Adi berbinar. “Siap, Bu! Asal mi instannya gratis, saya jamin karung-karung itu akan saya susun rapi. Saya janji, Bu!”
Di luar ruangan, para pelamar ijazah SMA sudah bersiap-siap untuk wawancara. Mereka melihat Adi keluar dengan wajah gembira, sambil menari-nari kecil. Salah seorang dari mereka, si pemuda berkacamata, menghampiri Adi.
“Gimana, Mas? Diterima?” tanyanya dengan nada meremehkan.
“Diterima, Mas! Di bagian gudang,” jawab Adi dengan riang.
“Tuh kan, apa saya bilang. Paling cuma jadi kuli angkut,” cibir si pemuda.
Adi tersenyum. “Emang kenapa, Mas? Kerjaan kuli itu mulia. Yang penting, saya dapat kerja. Lah, kalian? Sudah pada rapi-rapi begini, siapa tahu nanti balik ke rumah cuma bawa surat cinta dari HRD.”
Tiba-tiba, Bu Sinta keluar. “Mohon maaf, wawancara hari ini selesai. Kami sudah menemukan kandidat yang cocok,” katanya.
Wajah para pelamar langsung berubah pucat. Mereka menatap Adi, seolah ia adalah pahlawan yang telah mengorbankan semua orang. Adi hanya bisa tersenyum simpul, sambil membayangkan tumpukan karung terigu yang akan menjadi saksi bisu perjuangannya.
Di Jakarta, Ijazah memang penting. Tapi, kadang, keyakinan dan sedikit kenekatan lebih penting lagi. Apalagi kalau kamu punya ide mi instan rasa jengkol.

















