Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita & Investigasi

“Demi Merah Putih, Kami Kembali”: Tiga Saudara Kandung Mantan OPM Berikrar Setia kepada NKRI di Sinak

42
×

“Demi Merah Putih, Kami Kembali”: Tiga Saudara Kandung Mantan OPM Berikrar Setia kepada NKRI di Sinak

Sebarkan artikel ini

Sinak, Papua Tengah, suarapantura.id – Sebuah momen haru dan penuh makna terjadi di Sinak, Papua Tengah, pada Minggu sore, 22 Juni 2025. Tiga mantan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), Amus Tabuni, Amute Tabuni, dan Anis Tabuni, secara resmi menyatakan ikrar kesetiaan mereka kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di halaman Kantor Koramil 1717-02/Sinak. Kepulangan mereka bukan hanya secara fisik, melainkan dengan tekad kuat untuk berdamai dan membangun masa depan di tanah Papua.

Acara ikrar ini diinisiasi oleh kolaborasi Apkam TNI Wilayah Sinak dan dihadiri sekitar 30 orang, termasuk perwakilan TNI-Polri, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pihak keluarga. Suasana haru menyelimuti prosesi yang menjadi simbol harapan, pengampunan, dan komitmen untuk kedamaian di Papua.

Pesan untuk Perdamaian

Dalam sambutannya, Letda Hendra menekankan pentingnya peristiwa ini sebagai pembelajaran. “Perselisihan di tubuh kelompok OPM yang menelan korban jiwa hingga membakar Honai harus jadi pelajaran pahit. Kalau dengan anggotanya sendiri mereka bisa kejam, apalagi dengan masyarakat biasa. Inilah alasan kenapa kita harus terus mengajak saudara-saudara kita kembali ke jalan yang benar,” tegasnya.

Senada dengan itu, Wadansatgas Yonif 700/WYC, Kapten Inf Finsa Wahyu, menyampaikan pandangan yang menyentuh hati. “Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah kemenangan hati nurani atas senjata, kemenangan harapan atas kebencian. Tiga anak bangsa kembali bukan karena mereka kalah, tapi karena mereka percaya bahwa masa depan Papua ada di dalam pelukan Indonesia, bukan dalam pelarian dan kekerasan,” ujarnya penuh haru.

Kapten Finsa juga menambahkan bahwa keberhasilan ini membuktikan efektivitas pendekatan humanis, komunikasi, dan kehadiran aparat keamanan yang merangkul masyarakat pedalaman Papua. “Kami, Satgas Yonif 700/WYC, akan terus hadir tidak hanya sebagai penjaga batas, tapi sebagai pelindung dan sahabat bagi rakyat Papua. Karena keamanan sejati bukan lahir dari senjata, tapi dari kepercayaan,” imbuhnya.

Cium Bendera Merah Putih, Pecah Tangis Haru

Tiga saudara kandung itu berdiri tegap di depan Bendera Merah Putih. Dengan suara tegas namun mata yang berkaca-kaca, mereka membacakan ikrar kesetiaan kepada NKRI. Tangis haru pun pecah di antara keluarga, tokoh adat, dan aparat yang hadir. Setelah itu, mereka menandatangani surat ikrar, sebuah simbol resmi tekad mereka untuk meninggalkan jalur separatis dan memilih jalan perdamaian.

Manus Murib, mewakili pihak keluarga, menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada TNI-Polri dan seluruh aparat keamanan. Ia juga memohon agar Pos TNI-Polri dapat hadir di Distrik Yugumuak untuk melindungi warga dari sisa-sisa ancaman kelompok separatis. “Kami percaya, hanya dengan bersatu dan berdiri bersama NKRI, anak-anak kami bisa hidup aman, bisa sekolah, bisa bercita-cita. Kami tidak ingin lagi hidup dalam bayang-bayang ketakutan,” ungkapnya.

Momen paling menggetarkan jiwa terjadi ketika Amus, Amute, dan Anis Tabuni mencium Sang Saka Merah Putih. Mereka menunduk penuh hormat, mencium bendera itu seolah memohon maaf, memeluk kembali Ibu Pertiwi yang sempat mereka tinggalkan. Isak tangis terdengar, diiringi bisikan lirih, “Mereka pulang…”

Acara ditutup dengan doa oleh Pendeta Yas Murib, dilanjutkan dengan sesi foto bersama yang menyatukan semua pihak—TNI, Polri, tokoh adat, tokoh agama, keluarga, dan pemerintah—dalam satu bingkai, satu semangat: membangun Papua yang damai.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!