Cerpen Karya: Putri Nadia
Nani bukan gadis biasa. Parasnya cantik, anggun, bagai lukisan dewi-dewi yang turun ke bumi. Baru lulus SMA, ia sudah memiliki koleksi surat cinta yang bisa dipakai untuk membuat bantal, setidaknya ada sepuluh pucuk setiap hari. Tapi, anehnya, tak ada satu pun dari pengagumnya yang berani melangkah lebih jauh. Mereka hanya berani kirim surat, melempar pandang dari jauh, dan—paling berani—menitipkan cokelat lewat adiknya.
Ada satu alasan kenapa rumah Nani bagai benteng tak tertembus: Ayahnya.
Pak Hardi, sang ayah, adalah pensiunan jenderal perang yang ditakuti. Wajahnya keras, rahangnya kotak, dan tatapannya setajam elang lapar. Postur tubuhnya tegap, tangannya besar dan dipenuhi urat-urat menonjol. Ia tidak perlu bicara untuk membuat orang ciut. Cukup dengan duduk di teras sambil menyesap kopi, aura “jangan macam-macam” sudah terpancar kuat. Banyak yang bilang, Pak Hardi bisa membuat rumput layu hanya dengan menatapnya.
Suatu sore, Nani sedang duduk di kamarnya, membaca lagi surat-surat cinta yang menumpuk. Di antara surat-surat itu, ada satu yang paling sering ia baca, dari seorang cowok bernama Bimo. Bimo menulis dengan puitis, menceritakan betapa indahnya senyum Nani dan bagaimana ia ingin mengajak Nani jalan-jalan.
Nani menghela napas. Hatinya merana. Bimo terlihat tampan, berwibawa, dan—yang terpenting—ia adalah satu-satunya yang berani mengirim surat ke alamat rumah Nani. “Andai saja Bimo berani datang,” bisik Nani pada dirinya sendiri.
Tak lama, ia mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Jantung Nani berdebar kencang. Itu pasti Bimo! Ia mengintip dari jendela dan benar saja, di depan gerbang, Bimo berdiri dengan tegap, mengenakan jaket kulit, dan memegang sebuket bunga mawar. Sebuah senyum malu-malu terukir di wajahnya.
Nani begitu bahagia. Akhirnya! Ada juga yang berani.
Namun, kebahagiaan itu sirna secepat kilat. Pintu depan terbuka, dan Pak Hardi keluar. Ia melihat Bimo, lalu tatapannya beralih ke bunga mawar yang dipegang Bimo. Ekspresi wajah Pak Hardi tidak berubah. Ia hanya menunjuk ke bangku di teras dengan dagunya.
Bimo, yang awalnya terlihat gagah, mendadak kaku. Ia menelan ludah dan berjalan perlahan menuju teras. Rasanya seperti berjalan menuju medan perang. Ia duduk di kursi yang ditunjuk Pak Hardi.
Pak Hardi tak bicara. Ia hanya menatap Bimo, dari ujung kaki sampai ujung rambut. Tatapannya begitu intens, seolah ia sedang menaksir apakah Bimo cocok dijadikan sasaran tembak atau tidak. Bimo mulai berkeringat dingin, padahal cuaca tidak terlalu panas.
“Nama?” tanya Pak Hardi, suaranya dalam dan berat.
“B-Bimo, Om,” jawab Bimo, suaranya bergetar.
“Ke sini mau apa?” tanya Pak Hardi lagi.
“Saya… mau ketemu Nani, Om.”
“Nani lagi belajar,” jawab Pak Hardi singkat. “Kamu kuliah di mana?”
Bimo menyebutkan nama universitasnya. Pak Hardi mengangguk-angguk. “Tahu apa kamu tentang Nani?”
Bimo terdiam. Ia hanya tahu Nani gadis yang cantik dan misterius. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Kamu pikir Nani itu apa?” tanya Pak Hardi lagi, nadanya sedikit lebih tinggi. “Boneka?”
“Bukan, Om!” seru Bimo. “Saya… saya suka sama Nani, Om. Saya cuma mau kenal lebih jauh.”
“Kenal lebih jauh?” Pak Hardi mendengus. “Kamu tahu Nani itu anak siapa?”
Bimo menggeleng.
“Anak saya,” jawab Pak Hardi. “Dan saya adalah pensiunan jenderal. Senapan saya masih di lemari. Mau coba?”
Bimo langsung berdiri. Wajahnya pucat pasi. “E-enggak, Om. Saya… saya pamit dulu, Om.”
“Bagus,” kata Pak Hardi. “Pulang. Jangan pernah datang lagi kalau tidak siap.”
Bimo langsung berbalik, nyaris berlari, dan menancap gas motornya. Suara knalpotnya terdengar panik.
Nani, yang menyaksikan semua itu dari jendela kamarnya, hanya bisa pasrah. Ia tahu, cinta tidak akan pernah bersemi di bawah pengawasan ketat sang jenderal perang. Hatinya kembali hampa.
Beberapa bulan kemudian, Nani berangkat kuliah ke Australia. Ia mengira di sana ia akan bebas dari pengawasan ayahnya.
Di Australia, Nani baru bisa merasakan indahnya berinteraksi dengan pria. Ia bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa tampan dan ramah. Salah satunya bernama Chris, seorang pemuda dari London yang humoris dan suka membaca puisi. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di kafe, taman, atau perpustakaan.
Suatu hari, Chris mengajak Nani ke sebuah taman yang indah. Chris memegang tangannya, dan Nani merasa jantungnya berdebar kencang. Chris menatapnya lekat-lekat dan berkata, “Nani, kamu tahu… saya belum pernah bertemu gadis seindah kamu.”
Nani tersipu malu. Inilah saat-saat yang selalu ia impikan.
“Iya, saya tahu. Saya punya fotonya,” jawab Nani.
“Hah?” Chris mengerutkan kening.
Nani mengeluarkan ponselnya, membuka galeri foto, dan menunjukkan foto ayahnya, Pak Hardi, yang sedang memakai seragam militer lengkap.
“Itu ayah saya,” kata Nani dengan bangga. “Pensiunan jenderal.”
Chris menatap foto itu dengan nanar. Di foto itu, Pak Hardi terlihat begitu sangar, dengan mata yang menembus layar. Tiba-tiba, Chris melepaskan tangan Nani, mundur selangkah, dan berdeham.
“Ah, iya, indah sekali,” kata Chris, suaranya terdengar canggung. “Tapi, sepertinya saya harus pergi sekarang. Ada tugas kuliah yang harus saya selesaikan.”
Nani terkejut. “Tapi… Chris…”
Chris tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sopan dan berjalan cepat meninggalkan Nani. Nani hanya bisa berdiri di sana, menatap punggung Chris yang menjauh, lalu menatap lagi foto ayahnya di ponsel.
Hingga malam tiba, Nani masih sendirian di bangku taman. Ia tahu, ada aura lain yang datang bersamanya, aura yang tidak akan pernah bisa ia lepaskan. Aura “jangan macam-macam” yang diwariskan ayahnya. Di bawah langit Australia yang berbintang, Nani menyadari, cinta memang tidak akan pernah semudah itu.

















