Indramayu, suarapantura.id– Sejumlah kepala sekolah tingkat SMP dan SMA di wilayah Indramayu bagian barat diduga menjadi sasaran permintaan uang melalui pesan WhatsApp yang disertai kalimat bernada ancaman. Kasus ini menjadi sorotan setelah percakapan tersebut beredar di grup jurnalis setempat.
Penelusuran SuaraPantura.id menemukan keterangan dari seorang kepala sekolah berinisial S yang mengaku menerima pesan permintaan uang pada Rabu lalu dari seseorang yang mengaku sebagai wartawan sebuah media.
Dalam pesan yang diperlihatkan kepada wartawan, pengirim diduga menulis, “Kalau tidak dikirim, saya cari salah Anda sebagai kepala sekolah.”
Pengirim disebut meminta uang Rp200.000. Setelah S mentransfer Rp100.000, permintaan tambahan Rp100.000 kembali disampaikan. Pesan tersebut juga mencantumkan nomor rekening atau akun DANA.
S mengaku tidak mengenal pengirim dan menyebut orang tersebut belum pernah datang ke sekolahnya.
“Foto profilnya tidak ada, Mas, dan belum pernah datang ke sekolah. Saya sudah meminta dia datang ke sekolah, tetapi alasannya sedang berada di Cirebon, di rumah istrinya,” ujar S.
Percakapan tersebut memunculkan dugaan adanya tekanan terhadap pihak sekolah. Namun, jumlah kepala sekolah yang mengalami kejadian serupa, identitas pengirim, serta motif permintaan uang masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
Nama Agus yang disebut dalam percakapan juga belum dapat dipastikan keterkaitannya dengan peristiwa tersebut. Demikian pula dugaan hubungan pengirim dengan Media Lentera masih memerlukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
SuaraPantura.id menegaskan bahwa keaslian pesan, identitas pemilik rekening atau akun DANA, serta kronologi transaksi perlu diverifikasi sebelum kesimpulan dapat ditarik.
Dalam praktik jurnalistik, wartawan memiliki hak untuk mencari informasi, melakukan investigasi, dan meminta klarifikasi kepada pihak yang berkepentingan. Namun, kegiatan jurnalistik harus dijalankan secara profesional, independen, dan berimbang, bukan digunakan untuk menekan narasumber atau meminta uang demi kepentingan pribadi.
Di sisi lain, kepala sekolah tetap berkewajiban menjaga transparansi pengelolaan pendidikan dan terbuka terhadap pengawasan publik. Akan tetapi, permintaan uang yang disertai dugaan ancaman tidak boleh dianggap sebagai bagian dari prosedur jurnalistik yang wajar.
SuaraPantura.id membuka ruang klarifikasi bagi pihak yang disebut dalam pemberitaan ini untuk memberikan penjelasan. Verifikasi lanjutan diperlukan agar persoalan tersebut terang dan tidak menimbulkan tuduhan yang keliru terhadap individu maupun lembaga tertentu.

















