Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Pendidikan & Teknologi

Dari Ruang Kelas ke Panggung Sastra, Tiga Sekolah di Indramayu Siap Launching Buku Karya Siswa dan Guru di HB Jassin

97
×

Dari Ruang Kelas ke Panggung Sastra, Tiga Sekolah di Indramayu Siap Launching Buku Karya Siswa dan Guru di HB Jassin

Sebarkan artikel ini

Indramayu, suarapantura.id – Literasi bukan sekadar membaca dan menulis. Di tangan para pendidik yang memiliki visi, literasi tumbuh menjadi gerakan kreatif yang mendorong siswa berpikir kritis, berani berkarya, dan meninggalkan jejak melalui tulisan.

Semangat itulah yang tumbuh di tiga sekolah di Kabupaten Indramayu, yakni SMK Negeri 1 Losarang, SMK Negeri 1 Jatibarang, dan MTs Negeri 4 Indramayu. Ketiganya bersiap membawa karya puisi, cerpen, hingga komik hasil kreativitas siswa dan guru ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, pada 27 November 2026 mendatang.

Bukan sekadar peluncuran buku, momentum ini menjadi bukti bahwa ruang pendidikan dapat menjadi tempat lahirnya penulis-penulis muda sekaligus tumbuhnya budaya literasi yang nyata.

SMKN 1 Losarang: Literasi Harus Melahirkan Karya

Mengunjungi SMK Negeri 1 Losarang, pengunjung akan disambut hangat oleh Kepala Sekolah Arifuddin, S.Pd., M.T. Sikap terbuka dan komunikatif menjadi bagian dari kepemimpinannya dalam membangun lingkungan sekolah yang dinamis.

Di atas lahan sekitar dua hektare, sekolah ini tidak hanya menghadirkan ruang belajar dan laboratorium praktik mesin, tetapi juga laboratorium produksi sabun dan biosolar serta kebun hidroponik dengan beragam tanaman produktif.

Semangat inovasi tersebut berjalan beriringan dengan gerakan literasi yang dikembangkan di sekolah.

Bagi Arifuddin, literasi tidak boleh berhenti pada kegiatan membaca dan menganalisis. Literasi harus diwujudkan melalui karya dan tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

“Literasi tidak hanya sebatas membaca dan menganalisis, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk karya sebagai kerja nyata. Kalau literasi merupakan upaya seseorang untuk keluar dari persoalan hidupnya, ya harus berpikir dan berkarya,” ujarnya.

Ia berharap lulusan SMKN 1 Losarang tidak hanya mampu membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga memiliki keberanian untuk menciptakan sesuatu, membuka peluang, bahkan membangun lapangan kerja.

Semangat itu terlihat dalam Workshop Literasi dan Jurnalistik yang digelar Kamis, 8 Oktober 2026, dengan menghadirkan Acep Syahril, Ali Manawi, dan Apip Nopianto sebagai pemateri.

Melalui kegiatan tersebut, siswa dan guru didorong mengekspresikan gagasan dalam bentuk puisi dan cerita pendek. Karya-karya mereka direncanakan terbit melalui kerja sama dengan Penerbit Teras Budaya Jakarta dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin pada 27 November mendatang.

Guru pembina produksi, Syaeful Rahman, M.Pd., turut mendukung gerakan tersebut. Keterlibatan guru dan siswa menjadi bagian penting dalam menjalankan program literasi sekolah secara berkelanjutan.

SMKN 1 Jatibarang: Guru Menulis, Siswa Berkarya

Gerakan serupa tumbuh di SMK Negeri 1 Jatibarang. Sekolah ini tidak hanya mendorong siswa mengenal dunia sastra, tetapi juga menghadirkan guru sebagai bagian dari ekosistem penulisan kreatif.

Kepala sekolah Suparman, S.Pd., Ing., menyatakan kesiapan menghadiri agenda di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin sekaligus membawa buku kumpulan puisi dan cerpen karya siswa serta sejumlah guru.

Di balik gerakan tersebut, terdapat para pendidik yang aktif menghidupkan tradisi menulis, di antaranya Nur Euis Istiqomah, Shinta Meilani Yuliarini, Nika Indragini, Ayu Dwi Puspita Sari, dan Wiliasih Yusvsnella.

Mereka tidak hanya mendampingi siswa, tetapi juga aktif menulis dan mengikuti berbagai kegiatan sastra yang digagas komunitas di Indonesia.

Keterlibatan para guru dalam berbagai karya antologi puisi, cerpen, dan esai turut memperkuat atmosfer literasi di lingkungan sekolah.

Bagi SMKN 1 Jatibarang, menulis bukan sekadar tugas akademik. Kegiatan ini menjadi ruang bagi guru dan siswa untuk menyampaikan gagasan, mengolah pengalaman, serta merekam realitas kehidupan melalui bahasa.

MTsN 4 Indramayu: Tradisi Literasi yang Terus Berlanjut

Di MTs Negeri 4 Indramayu, gerakan menulis telah berkembang menjadi tradisi yang dijaga lintas kepemimpinan.

Memasuki tahun ketiga penerbitan buku kumpulan puisi dan cerpen, sekolah ini melanjutkan rintisan yang sebelumnya dikembangkan Ahmad Fadlali, S.Ag., M.A., kemudian diteruskan oleh Adi Mesya, S.Pd., M.Pmat.

Pada 2025, MTsN 4 Indramayu pernah meluncurkan buku kumpulan puisi berjudul Di Bibir Laut. Buku tersebut melibatkan sekitar 250 siswa kelas VII, VIII, dan IX serta sejumlah guru, dengan peluncuran di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta.

Pengalaman tersebut menjadi pijakan untuk mengembangkan karya-karya berikutnya. Tahun ini, MTsN 4 Indramayu kembali bersiap membawa karya siswa dan guru berupa kumpulan puisi, cerpen, serta komik ke agenda yang sama.

Gerakan itu didukung oleh para guru dan tenaga kependidikan, di antaranya Dwi Wahyuni Apriyanti, Lungguh Prihatnika, S.Pd., dan Zaenal Arifin, S.Pd., bersama sejumlah pendidik lainnya.

Keterlibatan ratusan siswa dalam kegiatan menulis menunjukkan bahwa literasi dapat menjadi ruang partisipasi bersama. Setiap siswa memiliki kesempatan menyampaikan imajinasi, pengalaman, dan pandangannya melalui karya.

Menanam Literasi, Memanen Generasi Kreatif

Kesiapan tiga sekolah tersebut menunjukkan bahwa gerakan literasi di Indramayu memiliki potensi untuk berkembang melampaui kegiatan membaca di ruang kelas.

Puisi, cerpen, esai, dan komik menjadi medium bagi siswa untuk mengasah kepekaan, membangun keberanian berekspresi, serta belajar menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.

Sementara bagi guru, keterlibatan dalam proses kreatif menjadi teladan bahwa budaya menulis perlu dibangun melalui praktik, bukan sekadar imbauan.

Agenda di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin pada 27 November 2026 mendatang pun menjadi momentum penting bagi karya-karya dari Indramayu untuk memperoleh ruang apresiasi yang lebih luas.

Lebih dari sekadar buku yang akan diluncurkan, karya-karya tersebut menyimpan cerita tentang proses belajar, kegigihan pendidik, dan keberanian siswa untuk menuangkan pikiran menjadi tulisan.

Dari Losarang, Jatibarang, hingga MTsN 4 Indramayu, pesan yang dibawa sama: sekolah tidak hanya bertugas melahirkan lulusan, tetapi juga membuka jalan bagi lahirnya generasi yang mampu berpikir, berkreasi, dan berkarya.

Literasi pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak buku yang dibaca, melainkan tentang berapa banyak gagasan yang berhasil dilahirkan dan dibagikan kepada dunia.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!