Oleh: H. Ahmad Fadlali, S.Ag., M.A.
(Kepala MTsN 4 Indramayu)
Puasa adalah ibadah yang sangat mulia dengan banyak hikmah di dalamnya. Puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan sarana untuk memperbaiki akhlak, meningkatkan ketakwaan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Melalui puasa, kita diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, disiplin, peduli terhadap sesama, serta lebih taat kepada Allah, sehingga terbentuk kepribadian Muslim yang kuat.
Pembentukan kepribadian Muslim pada dasarnya adalah mengarahkan perubahan sikap ke arah sikap yang sesuai dengan ajaran Islam. Upaya ini dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam puasa Ramadan. Kepribadian Muslim adalah kepribadian yang percaya sepenuh hati terhadap keberadaan Allah, malaikat, kitabullah, rasul, hari akhir, serta baik dan buruknya takdir. Kepercayaan itu diimplementasikan dalam perbuatan konkret sesuai dengan tuntutan nilai-nilai ilahiah serta menjalankan rukun Islam sesuai dengan ketentuan syariat.
Ada beberapa karakter ideal kepribadian Muslim menurut Abdul Mujib, yaitu kepribadian syahadatain, kepribadian mushalli, kepribadian muzakki, kepribadian shaim, dan kepribadian haji.
Menurut Dr. Moh. Abdullah Ad Darraz, pembentukan kepribadian Muslim, baik sebagai individu maupun sebagai umat, tidak bisa dihindari. Dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai individu, pembentukan diarahkan pada pengembangan dan peningkatan faktor bawaan (fitrah) serta faktor lingkungan (ajar), dengan berpedoman pada nilai-nilai Islam. Peningkatan faktor bawaan berupa pembiasaan berpikir, bersikap, dan bertingkah laku menurut norma-norma Islam. Dengan kata lain, pembentukan pandangan hidup yang mantap berdasarkan nilai-nilai Islam. Adapun peningkatan faktor ajar dilakukan melalui penciptaan lingkungan Islami yang dapat memengaruhi individu.
Proses Pembentukan Kepribadian Muslim
Proses pembentukan kepribadian Muslim selama puasa Ramadan terbagi menjadi tiga tahap, yaitu pembentukan pembiasaan, pembentukan pengertian, sikap, dan minat, serta pembentukan kerohanian yang luhur. Jika dihubungkan dengan tingkat perkembangan anak, tahap ini dilakukan pada masa vital, kanak-kanak, dan separuh masa sekolah.
Tenaga kepribadian yang lebih berperan dalam tahap ini adalah tenaga jasmaniah. Tujuan pembentukan pada masa ini terutama adalah membentuk aspek jasmaniah dari kepribadian atau memberi kecakapan dalam bertindak dan berbicara. Caranya adalah dengan mengontrol dan memanfaatkan tenaga jasmaniah, serta dengan bantuan kejiwaan. Si terdidik dibiasakan melakukan amalan-amalan selama bulan Ramadan, seperti zikir, tarawih, tadarus Al-Qur’an, memperdalam kajian-kajian Al-Qur’an, dan mengamalkan kandungannya.
Oleh karena itu, seorang Muslim dituntut untuk memiliki kepribadian Qurani selain kepribadian rabbani, malaki, dan rasuli. Kepribadian Qurani adalah kepribadian yang mampu menginternalisasikan (mengambil dan mengamalkan) nilai-nilai Al-Qur’an dalam perilaku nyata. Sementara itu, kepribadian rabbani adalah kepribadian yang mampu menginternalisasikan sifat-sifat dan asma Allah SWT ke dalam perilaku nyata, sebatas kemampuan manusiawinya.
Menurut Dr. Komarudin Hidayat (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), proses pembentukan karakter rabbani ini melalui tiga tahap, yaitu taalluq, takhalluq, dan tahaqquq.
1. Taalluq, yaitu berusaha mengingat dan meningkatkan kesadaran hati serta pikiran kepada Allah. Seorang mukmin tidak boleh lepas dari berpikir dan berzikir kepada Tuhannya, di mana pun ia berada (Q.S. Ali Imran: 191).
2. Takhalluq, yaitu secara sadar meniru sifat-sifat Tuhan sehingga seorang mukmin memiliki sifat-sifat mulia sebagaimana sifat-Nya.
3. Tahaqquq, yaitu kemampuan untuk mengaktualisasikan kesadaran dan kapasitas dirinya sebagai seorang mukmin, di mana dirinya telah didominasi sifat-sifat Tuhan sehingga tercermin dalam perilakunya yang suci dan mulia.
Melalui tahapan taalluq, takhalluq, dan tahaqquq, seorang mukmin akan mencapai derajat khalifah Allah dengan kapasitasnya yang perkasa sekaligus penuh kasih dan damai.
Pembentukan kepribadian Muslim yang berhasil ditandai dengan adanya keharmonisan antara dua kecenderungan yang saling berlawanan, yaitu kecenderungan sosialistik dan kecenderungan individualistik. Keduanya tumbuh secara seimbang, tanpa ada yang terabaikan. Dengan kata lain, terdapat keseimbangan antara peran individu dengan lingkungan sekitarnya yang dijiwai oleh nilai-nilai Islam. Selain itu, semua aspek dan tenaga kepribadian dalam diri seseorang harus bekerja seimbang sesuai dengan kebutuhannya.
Semoga puasa Ramadan yang kita laksanakan selama sebulan penuh dapat meningkatkan ketakwaan, melatih kesabaran, mempererat solidaritas sosial, peduli terhadap lingkungan sekitar, serta membersihkan jiwa, sehingga kita menjadi pribadi Muslim yang ideal sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

















