Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Ekonomi & Pangan

Bata Merah Tergerus Modernisasi, Perajin di Indramayu Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Hebel

23
×

Bata Merah Tergerus Modernisasi, Perajin di Indramayu Tetap Bertahan di Tengah Gempuran Hebel

Sebarkan artikel ini
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; hdrForward: 0; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: auto;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 37;

Indramayu, suarapantura.id_ — Di tengah derasnya modernisasi sektor konstruksi, industri bata merah tradisional perlahan menghadapi masa sulit. Namun, di Blok Tegal, Desa Jatimunggul, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Senin, (14 September 2026).

Sejumlah perajin masih memilih bertahan, menggantungkan penghasilan dari tanah yang dibakar menjadi bata. Salah satunya adalah Kasna, pemilik tempat produksi bata merah di kawasan tersebut, dalam kondisi normal, lokasi produksinya mampu mencetak hingga 8.000 bata per hari. Namun, aktivitas produksi tidak selalu berjalan setiap hari.

Saat ini, proses pencetakan bahkan dihentikan sementara karena halaman yang biasa digunakan untuk menjemur bata sudah penuh.

Tono, salah seorang pekerja, misalnya, mendapatkan upah berdasarkan jumlah bata yang berhasil dicetak. Untuk 1.000 bata, ia menerima upah borongan sekitar Rp12.000.

“Kalau tempat jemurnya penuh, ya produksi berhenti dulu. Bata yang sudah dicetak harus dijemur sampai cukup kering sebelum masuk proses pembakaran,” Jelas Tono.

Untuk satu kali pembakaran, jumlahnya bisa mencapai sekitar 200.000 bata. Proses pembakaran pun membutuhkan waktu cukup lama, yakni sekitar 23 hari hingga bata benar-benar matang.

Di balik produksi tersebut, terdapat tenaga kerja yang menggantungkan penghasilan dari setiap tahapan pembuatan bata.

Sementara pekerja bagian pembakaran memperoleh upah sekitar Rp500 per bata, sedangkan pekerjaan muat dan bongkar hingga bata sampai ke kendaraan juga dihitung berdasarkan jumlah dan jarak pengiriman. Untuk sekitar 5.000 bata, ongkos angkut dan bongkar-muat berada di kisaran Rp100.000, tergantung jarak tujuan.

Meski masih memiliki pasar, perajin bata merah kini menghadapi tantangan yang semakin berat.

Bata merah harus bersaing dengan material bangunan modern seperti hebel yang dinilai lebih praktis dan dalam sejumlah kondisi ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif.

Kondisi tersebut membuat keberadaan industri bata merah tradisional semakin terdesak. Padahal, usaha ini bukan sekadar aktivitas produksi bahan bangunan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat sekitar.

Bagi para perajin, bertahan bukan perkara mudah. Mereka harus menghadapi perubahan selera pasar, persaingan material modern, biaya produksi, hingga keterbatasan tempat penjemuran.

Di tengah gempuran material bangunan modern, tungku pembakaran dan cetakan bata merah di Jatimunggul menjadi gambaran bahwa usaha tradisional tersebut masih berusaha mempertahankan eksistensinya.

Bata merah mungkin tak lagi menjadi satu-satunya pilihan dalam pembangunan rumah. Namun bagi para perajin, setiap bata yang dicetak dan dibakar tetap menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan dapur agar tetap mengepul.

Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!