INDRAMAYU, suarapantura.id – Harga telur bebek di tingkat peternak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mengalami penurunan. Saat ini, harga jual disebut hanya sekitar Rp2.000 per butir, kondisi yang membuat peternak harus menghadapi tekanan di tengah biaya pemeliharaan ternak yang terus berjalan.
Salah seorang peternak bebek, Udin (66), warga Desa Telagasari, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, mengaku merasakan langsung penurunan harga tersebut. Ia merupakan pemilik usaha ternak bebek jenis Mojosari dengan populasi sekitar 500 ekor.
Menurut Udin, produksi telur dari ternaknya saat ini berkisar antara 230 hingga 250 butir per hari. Jumlah tersebut mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang mampu mencapai sekitar 290 butir per hari.
“Bulan kemarin 290 ekor per hari,” ujar Udin saat ditemui. Rabu, (07 Oktober 2026).
Ia menjelaskan, bebek Mojosari dikenal sebagai salah satu jenis bebek petelur yang produktif. Dalam kondisi pemeliharaan yang baik, produksi dapat mencapai sekitar 180–220 butir telur per ekor per tahun, dengan bobot telur rata-rata 65–70 gram.
Telur bebek Mojosari juga memiliki karakteristik cangkang berwarna biru kehijauan yang cukup mudah dikenali.
Dengan populasi sekitar 500 ekor, produksi ratusan butir telur setiap hari sebenarnya menjadi sumber pendapatan utama bagi Udin. Namun, harga jual yang hanya sekitar Rp2.000 per butir membuat pendapatan peternak ikut tertekan.
“Kalau harga telur turun, kami yang paling terasa. Bebek tetap harus diberi makan dan dirawat setiap hari,” keluhnya.
Udin berharap kondisi harga telur bebek kembali membaik sehingga usaha peternakan yang telah dijalankannya tetap dapat bertahan.
Penurunan harga di tingkat peternak juga menjadi perhatian karena keberlangsungan usaha peternakan rakyat sangat bergantung pada keseimbangan antara harga jual telur dengan biaya pakan, perawatan, dan kebutuhan operasional lainnya.
















