Indramayu, suarapantura.id– Tanaman semanggen atau semanggi yang selama ini dikenal sebagai gulma di areal persawahan, kini justru menjadi sumber penghasilan baru bagi sejumlah petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Budidaya tanaman berdaun empat tersebut mulai banyak dilirik, terutama oleh petani yang memiliki lahan kurang produktif untuk tanaman padi. Salah satunya terlihat di kawasan Jayawinangun, Kecamatan Kedokan bunder, Indramayu. Belasan petak lahan di sepanjang jalan raya Jayawinangun-Jambe kini ditanami semanggen.
Petani semanggen, Resi, mengatakan tanaman tersebut memiliki prospek ekonomi yang cukup menjanjikan. Selain perawatannya relatif mudah, semanggen dapat dipanen berkali-kali dalam satu bulan.
“Sekarang banyak petani yang beralih bertanam semanggen, terutama mereka yang lahannya kurang produktif,” ujar Resi.
Menurutnya, dalam kondisi tertentu, satu hektare lahan semanggen dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp3,5 juta hingga Rp5 juta per bulan. Harga jual semanggen berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.
Berbeda dengan padi yang membutuhkan waktu sekitar 100 hari hingga panen, semanggen dapat dipanen lebih cepat. Bahkan, sejumlah petani mengaku bisa melakukan panen setiap 12 hari.
Dadan, suami Resi, mengaku telah beralih dari tanaman padi ke semanggen sejak tiga tahun terakhir. Ia menilai keuntungan dan permintaan pasar menjadi alasan utama mempertahankan komoditas tersebut.
“Permintaan semanggen sekarang tinggi, saya sampai kesulitan memenuhinya,” kata Dadan.
Semanggen sendiri merupakan tanaman yang umum tumbuh liar di persawahan. Di Indramayu, tanaman ini justru menjadi bahan kuliner masyarakat. Biasanya semanggen direbus kemudian dicampur tauge, remucu atau pisang muda, sambal, dan parutan kelapa. Hidangan tersebut dikenal sebagai rumbah atau pecel semanggen.
Kini, tanaman yang dahulu dianggap gulma itu perlahan berubah menjadi komoditas bernilai ekonomi bagi petani Indramayu.
















