Indramayu, suarapantura.id – Suara musik menggelegar, arak-arakan warga memadati jalan, sementara beragam ogoh-ogoh dengan bentuk unik bergerak menyusuri jalur Gadingan–Sliyeg–Majasih. Pemandangan itu mewarnai kemeriahan Haul atau Unjungan Mbah Buyut Gading yang digelar masyarakat Desa Gadingan dan Desa Mekar Gading, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Rabu (21/10/2026).
Lebih dari 30 ogoh-ogoh hasil kreasi warga menjadi daya tarik utama dalam tradisi tahunan tersebut. Ribuan mata tertuju pada beragam bentuk yang diarak, mulai dari Buta Ijo, banteng, gajah, dinosaurus, beruang, jarang terbang, burung merak, tikus, hingga semut rangrang.
Setiap ogoh-ogoh tampil dengan karakter dan keunikan masing-masing. Di belakangnya, tim pendukung turut menghidupkan suasana, berpadu dengan dentuman sound system dari sejumlah blok yang membuat sepanjang jalur arak-arakan semakin semarak.
Bagi masyarakat setempat, kemeriahan ini bukan sekadar tontonan. Di balik bentuk-bentuk ogoh-ogoh yang beraneka rupa, tersimpan semangat kebersamaan, kreativitas, dan kepedulian warga dalam menjaga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Swadaya Warga hingga Ratusan Juta Rupiah
Besarnya antusiasme masyarakat juga terlihat dari proses pembuatan ogoh-ogoh. Berdasarkan informasi yang dihimpun, biaya pembuatan satu ogoh-ogoh diperkirakan mencapai Rp2 juta hingga Rp5 juta.
Dana tersebut berasal dari swadaya masyarakat di masing-masing blok. Jika dihitung dari puluhan ogoh-ogoh yang tampil, total biaya yang dikeluarkan warga diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Besarnya biaya itu menunjukkan bahwa tradisi Unjungan Mbah Buyut Gading memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Warga rela menyisihkan dana dan tenaga demi menghadirkan pertunjukan yang menarik sekaligus mempertahankan warisan budaya leluhur.
Kuwu Desa Gadingan, Suwarto, yang dikenal dengan sapaan Mama Wa’o, mengatakan arak-arakan ogoh-ogoh merupakan kegiatan rutin tahunan untuk menyambut Unjungan atau Haul Mbah Buyut Gading.
Menurutnya, kekompakan masyarakat menjadi salah satu kunci terselenggaranya tradisi tersebut setiap tahun.
“Masyarakat selalu kompak dalam menggelarnya setiap tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, upaya melestarikan budaya nenek moyang, mengenang sejarah asal-usul desa, serta menghormati para sesepuh, khususnya Mbah Buyut Gading.
Merawat Tradisi, Mempererat Persaudaraan
Semangat kebersamaan juga dirasakan warga Desa Mekar Gading. Tokoh masyarakat setempat, Wawan yang akrab disapa Jayono, mengaku senang dapat kembali terlibat dalam memeriahkan acara bersama teman-teman di lingkungannya.
Keterlibatan warga dari berbagai blok memperlihatkan bahwa Unjungan bukan hanya menjadi agenda tahunan, melainkan juga ruang untuk mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.
Tradisi ini mempertemukan berbagai kalangan dalam satu kegiatan, mulai dari mereka yang membuat ogoh-ogoh, menyiapkan sound system, mengatur arak-arakan, hingga warga yang datang untuk menyaksikan kemeriahan acara.
Di tengah perkembangan zaman, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan budaya semacam ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga identitas lokal agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Dimeriahkan Pagelaran Sandiwara
Kemeriahan Haul Mbah Buyut Gading tidak berhenti pada arak-arakan ogoh-ogoh. Masyarakat juga disuguhi pagelaran seni sandiwara Gelora Buana dari Desa Tambi, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu.
Kehadiran pertunjukan tersebut menambah warna dalam rangkaian perayaan, sekaligus memberikan ruang bagi kesenian tradisional untuk tetap hidup di tengah masyarakat.
Melalui swadaya, kreativitas, dan gotong royong, warga Desa Gadingan dan Mekar Gading kembali menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat terus bertahan ketika masyarakatnya ikut menjaga dan merawatnya.
Lebih dari sekadar kemeriahan ogoh-ogoh dan dentuman musik, Haul Mbah Buyut Gading menjadi gambaran tentang kuatnya ikatan sosial masyarakat dalam menghormati leluhur, mensyukuri kehidupan, dan mewariskan budaya kepada generasi mendatang.

















