Indramayu, suarapantura.id_ Harapan petani Desa Loyang, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, untuk memanen padi secara normal kembali terganjal persoalan klasik: air.
Ratusan hektare sawah di wilayah tersebut kini menghadapi ancaman gagal panen akibat keterbatasan pasokan air. Salah satu sumber utama pengairan petani, Waduk Kosambi, dinilai sudah tidak mampu menampung air secara optimal akibat tingginya sedimentasi atau endapan lumpur.
Waduk Kosambi memiliki luas sekitar 67 hektare dan selama ini menjadi salah satu penyangga kebutuhan irigasi pertanian masyarakat. Waduk tersebut disebut mampu mendukung pengairan hingga sekitar 1.000 hektare lahan sawah.
Namun, kondisi waduk yang dipenuhi sedimentasi membuat kapasitas tampung air semakin berkurang. Dampaknya langsung dirasakan petani yang menggantungkan keberlangsungan tanaman padi pada pasokan air dari waduk tersebut.
Kepala Desa Loyang, Nono Madani, berharap pemerintah maupun pihak terkait segera mengambil langkah untuk mengatasi persoalan sedimentasi tersebut.
“Waduk Kosambi ini salah satu penyangga pertanian di Desa Loyang. Kalau senimenya diangkat kedalamannya tiga meter, bisa menampung sekitar enam juta meter kubik air, dan bisa mampu ngealiri sawah 1.000 hektar,”, kata Nono, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, normalisasi atau pengerukan sedimentasi menjadi kebutuhan penting agar fungsi waduk dapat kembali seperti semula.
“Kami berharap ada investor atau pihak yang bisa membantu menguras sedimentasi yang selama ini menjadi masalah petani, agar petani bisa panen,” ujarnya.
Senada, H. Nuryanin dari kelompok tani berharap Waduk Kosambi mendapat perhatian dan segera direnovasi atau dinormalisasi.
“Kami menginginkan waduk ini bisa hidup kembali, agar petani Desa Loyang bisa panen normal,” katanya.
Petani berharap persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut. Sebab, bagi mereka, Waduk Kosambi bukan sekadar tampungan air, tetapi menjadi penentu hidup-matinya pertanian di Desa Loyang.
















